Desember 2009

2

Bapak Ayah, Bapak Ibu, Bapak Mbak Upa, Bapak Mas Dito

Posted on Minggu, 27 Desember 2009


Oke,saya nulis note singkat aj.buat plampiasan g bs tdur..hehe

Skrg adkq rendi uda kls !1sd..qmrn dia manggil ayahq bpak narto aq brnafas lega.haha,knapa?krn dulu adkq g ngarti kata bpak..

Ayahq tu kan suka ngsi pgln aneh2.aq dulu d pgl upita,dito d pgl sarmento..lha,adkq plg bontot ni suka d pgl bpak indi.mksudny bpak rendi..

Celakanya,sama rendi yg supercrewet i2 d tirukan.

Ayahku d pgl bpak ayah..lha trus apa bedanya?
Aq d pgl bpk mbk upa,dito d pgl bpk ms dito..

Brngkali d benak rendi,bpak artinya imbuhan g pntg ky bro,say,etc,hehe..

Siapa yg dpt pgln plg aneh?yup,tntu aja ibuq!
BAPAK IBU!
whuahahaha,lha kmsude piye cb,,

Kegejean in tak boleh d biarkan!qt sklwrg yg trpingkal2,ga bole larut dlm ludrukan'e adkq..

Bpak ibu..upz mksudq ibuku..menjelaskn."ndi,bpak i2 artinya sm dgn ayah.lha kamu mgil ibu,bpak ibu brti kmu mgl ayh ambe ibu.bpak ayah,brti ayah2.Ngerti nggak?"

Hmm,boro2 ngerti.rendi malah marah: aq ini arek c├Člik,lek arek cilik ngga bs d blg'i..aq ga bs d blg'i.ngerti?

Oalah yo wes..

0

Just Let it Rain


Ketika air membasahi bumi
Tak ada lagi yang tersembunyi

Tentang hati yang pedih
Tentang jiwa yang beku
Tentang amarah yang membuncah

Semua topeng senyum wajah perkotaan yang pernah kita lukis
Semua tonggak ego simbol kekuatan yang pernah kita buat dengan liat
Luruh bersama serbuan air yang memaksa kita jujur
Bukan hanya untuk orang lain

Tapi juga jujr pada diri sendiri

Akuilah, tak selamanya senyum itu ada
Mengaku saja, bahwa selamanya manusia juga pasti rapuh,
Kedinginan dalam dunia yang terus membeku
Marah dengan segala usaha yang ditanggapi acuh tak acuh

Hidup terlalu keras untuk ditangisi
Tapi jiwa ini terlalu sepi jika selalu bersembunyi


Terima kasih hujan,
telah singgah dan bermurah hati
Menawarkan rintikmu untuk penawar perih
Mengijinkan kami yang terluka
Menitipkan airmata disela-sela butir-butir kecilmu...

1

10 pm till 10 am


Waktu kita lebih banyak tahu tentang dunia, percayalah, makin sempit alasan kita untuk tidak bersyukur. Aku pernah baca entah di mana, bahwa perjalan hidup kita seperti naik kereta api. Semuanya berlalu begitu cepat. Pemandangan lwat, lewat, dan lewat. Kecuali kita mau melihatnya dengan jeli. Memperhatikan jendelanya, menikmati dengan seksama supaya nggak kelewatan begitu saja.

Aku setubuh tuh dengan pernyataan itu. Tiap hari adalah rutinitas, ada yang istimewa pun kalau kita nggak menaruh minat untuk memperhatikannya, semuanya bakal lewat begitu aja. Nggak ada pelajaran berharga yang bisa kita petik. Ibarat naik kereta tadi, kalau ditanya “gimana tadi perjalanannya?” pasti jawabannya, “Ya gitu-gitu aja”. Nggak seru kan. Eehehe..

Jumat, tanggal 25 september lalu, aku perhatikan baik-baik kejadian diluar jendela keretaku. Ini petualang kesekian yang aku alami, dan bakal jadi cerita buat anak cucu, ehehe, bosen ya denger kata-kata ini. Barangkali entar, anak cucuku aku bikinkan sendiri buku dongeng “Petualangan Nenek Puspita”. Wahhaahahaaha, emang Cinderella aja yang ceritanya bagus…

Yup, jadi jumat itu rencanaya aku mau hunting foto demi tugas suci dari mata kuliah fotografi. Temanya adalah pasar. Kelompokku kebagian Pasar Mangga dua dan Pasar Ampel. Karena nggak punya kamera aku minta tolong mas Barel, temenku di gedung biru. Janjiannya sih jam 10 malam. Tapi ampun deh, entah kesambet setan apa, mas barel ini baru menampakkan diri jam 12 malem. Bahkan mas Dipta pun, yang maunya bantuin manggilin, ikut kesambet. Ckckckckck...

Teman-temanku yang malang, sampai nggak sabar nunggu karena banyak keperluan lain dan nggak boleh keluar malam. Ya, ya, ya. Karena udah nunggu dua jam, masa iya aku menyerah gitu aja gara-gara nggak ada temennya. Sia-sia dong. pantang pulang dengan tangan hampa. Ahahaha. Ya sudah, dua fotografer yang habis kesambet ini aku paksa tetap bantuin aku motret.

Jam 12an di Mangga Dua ternyata masih sepi. Banyak yang masih loading barang ke stannya masing-masing. Akhirnya aku jeprat-jepret seadanya dulu, nggak long shot, lha wong masih belum oke suasananya. Oh ya, tipsnya buat fotografer belajaran kayak aku, ehehe, sebelum hunting foto, sebaiknya googling dulu biar tahu gambarannya foto apa sih yang bisa diambil. Aku ambil foto ayam, foto dari atas lombok merah-merah. Awalnya malu-malu, tapi si om beruang nih, memberi inspirasi : lek isin kapan entuk’e, penekan iku biasa, seng penting amit. Yah begitulah, long shot mangga dua-pun aku dapet dengan naik atepnya pick-up pedagang yang lagi loading. Tengkyu ya pak, ehehe, Tuhan berkati.

Kalau aku lagi naik-naik atau motret gitu, mas dipta dan mas barel ngajak ngobrol pedagangnya yang lain. Ngobrol buat tugas kuliah lah, rumahe teng pundi, dsb-dsb. Wah, nggak rugi ngajak mas-mas ini. Karena hampir dua jam, jadilah kami artis dadakan di pasar. Ajiip. Ahaha, ada yang minta dicetakin juga loh. Ahaha, pikir tukang foto keliling kaliii. Dan seringnya kita dikira wartawan, “Mas, dilebokno memo ta jawa pos mas? Ojok ditulis kurang gizi lho,” kata salah satu pedangan becanda, waktu kita nyoba motret bapak-bapak kurus pembuat ketupat.

Puas foto-foto, giliran om beruang yang mau ngerjain tugas di pasar keputran. Asyik nih kayaknya. Mas barelnya iyah-iyah aja pengen poto juga. Oke, cabut! Tapi sebelumnya mereka *aku nggak lho ya, ngisi perut dulu di Unair. Maunya sih ngeronde, tapi nggak ada, akhirnya ngaso di warkop dan makan mie duk duk. Segelas Nescafe jadi bensin buat aku nerusin petualangan ini. Hehe
Hampir setengah tiga waktu kami ke pasar keputran. Ngelobi satpam indosat bentar, kami dipinjami tangga. Ta pikir mau motret pakai tangga, biar bagus longshotnya. Eh, nggak tahunya tangganya tuh buat naik reklame indosat yang guede itu loh, dasar aneh-aneh aja. Awalnya aku takut naik, wong tangganya tangga genit a.k.a hulag-halig goyang terus. Tapi pas naik, hemm..lihat pasar keputran yang ruame dan tumplek blek.

Pagi-pagi buta gitu, aku baru tahu, kalau ratusan orang – sementara biasanya aku masih bergelung sama selimut – lagi nyari nafkah. Dari yang masih belekan, berkemeja rapi jali, manggul belanjaan, numpuk dagangan di kepala, semuanya tumplek blek di keputran. Aku sangsi, setelah pasar tutup di pagi hari, mereka bakal tidur di rumah. Kemungkinan malah melanjutkan aktivitas buat mencukupi kebutuhan hidupnya.

Naif banget aku yang sering keki gara-gara pulang pagi dari gedung biru buat ngerjain naskah dulu. Padahal nih ya, aku ada di ruang ber-AC dengan kamar mandi yang homy. Kalau nggak kuat bisa bobok dikamar sebelah studio. Kalau setres bisa fitnes ato ping-pongan dulu di sebelah kompartemen nasional. Oh ya satu lagi, kalau laper bisa telepon 14045, atau yang paling
mutakhir, di sebelah sudah ada KFC 24 jam. Aseeek. Nah, begitu pulang, aku bisa langsung bobok di kamarku yang nyaman, kalau kuliah jam 7 ya apes namanya, kalau kuliahnya siang, whooo, udah kayak beruang kutub aku hibernasi.

Di keputran? Astaga! Mataku berkaca-kaca. Bukan! Bukan karena aku terharu melihat potret kehidupan yang ada di sana. Belum saya renungkan kok waktu itu, ahaha, mikirnya baru ntar diperjalanan. Mataku berkaca-kaca karena bolak-balik pengin muntah. Baunya, astaganaga, bikin aku bersumpah dalam hati kalau ada yang kentut di dekatku aku nggak bakal marah-marah. Karena aku yakin seribu juta persen, baunya nggak bakal sebau ini.

Itu nggak seberapa, yang pengin bikin aku muntah itu tanah yang aku injak. Temen-temen, tahu kan kalau aku phobia segala jenis buah-buahan yang benyek. Whoekss..di keputran ini, tomat segar, cabe, apapun lah, dibiarin aja ditanah becek, keinjek-injek, campur aduk, benyek, kayak bubur sampah. Dan aku pake sandal. Sangat terasa semiwringnya, sangat terasa teman-teman. Ngguilani pol.

Kalau besok calon suamiku syarat nikahnya adalah aku berani belanja di pasar keputran, mungkin aku mikir-mikir dulu. Rasanya aku nggak sanggup. Di pasar ini aku bingung, kalau nunduk dapet penampakan sayur mayur benyek, kalau aku ga nunduk, ntar aku kelihatan labu, pepaya, dan bangsa buah musuhku lainnya. Apalagi kalau nggak nunduk, aku bisa kepleset dan jatuh di tanah nista penuh kebenyekan itu. Aduh-aduh, apakah syarat jadi ibu dan istri yang baik harus belanja di keputran? Tolong dihapuskan ya syarat itu.

Untung mas dipta, ngajak belok di jalan yang agak berpaving - ada benyeknya juga sih, tapi mendingan . Om beruang ini mau ngambil foto pasar keputran dengan background BRI Tower dan gedung-gedung lainnya. Bagus ciak fotonya. Wes pek-pek’en kono mas, nilaimu apik dewe.
Pulang dari keputran, mulutku yang belum lulus S1 komunikasi ini keceplosan. ”Eh, gimana ya anak-anak yang dapat pasar ikan kenjeran. Hi, pasti bagus ada matahari terbitnya,”. Yaks! Jekpot sodara-sodara, mas-mas fotografer ini langsung bersemangat mengajar matahari di kenjeran. Aku buru-buru sms ayahku, meminta ijin, pulang ketika matahari sudah tinggi hari ini.

Perjalanan ke kenjeran ini dingin banget. Udara pagi hari menusuk-nusuk kakiku yang cuma pakai celana ¾ plus sendal jepit. Jaket yang aku pakai, jaket tipis oleh-oleh adikku dari TP5. ohoho, maklum saya nggak mau lagi satum seperti waktu hunting foto di pasar ampel. Aje gile, di sana semua orang pada berjilbab. Aku? Aku malah pakai rok pendek selutut, sendal jepit. Ckckckc, mana dijawil anak kecil tidak bermoral pula. Makanya buat ke pasar mangga dua, aku total jadi selayaknya ibu-ibu belanja ke pasar. Tapi hunting foto yang berlanjut ke kenjeran dengan baju seperti ini, bikin aku tersiksa. Ehehehe.

Masuk daerah Kenjeran, aku nggak mengenali pantainya. Hmm, sudah lama banget aku nggak ke sini. Seingatku, kenjeran ya pantai berwarna sokelat dengan pernak-pernik sampahnya. Ehehe. Tapi jam 5 pagi di Kenjeran ini benar-benar beda. Tuhan emang maha besar, semua yang ia ciptakan itu baik, seperti yang ada di kitab kejadian. Sungguh heran kuasaNya, kenjeran pagi hari itu indah banget.
Bagaimana aku menggambarkannya? Tidak bisa. Aku barusan baca terkom, bahasa itu terbatas. Ahaha. Ya, memang susah menggambarkan warna emas yang berkilau si air laut itu. Beriak-riak kecil menunggu sang surya muncul.

Aku pernah melihat matahari terbit diatas gunung. Lucu sekali. Kecil dan kuat, dia surya yang muncul dibalik gunung/bukit lainnya seperti yang digambar anak Indonesia pada umumnya. Maha besar Bapa Allahku. Indah nggak ketulungan, bau basah embun dan pemandangan ijo royo-royo.
Pertama kali, aku melihatnya, sang surya digunung itu, kini muncul dari laut dihadapanku. Merah membara, gradasi warna dan bau asin angin laut. Perfect moment buat pasangan-pasangan yang berpelukan sepanjang batuan tepi laut. Perfect moment buat aku yang sedang menikmati hidup. Seperti lagunya Opie : I’m single and very happy ^^. Dan ini perfect moment juga buat dua fotografer dari gedung biru itu. Lihat deh fotonya, om beruang sampe njengking-njengking gitu ngejar matahari. Hehe

Jadi, setelah melihat pemandangan yang indah di pagi hari itu, coba bilang padaku apa lagi yang harus kita khawatirkan tentang hidup ini? Seburuk apapun hidup ini, Tuhan tak pernah terlambat menolong. Seperti yang ada di Mazmur Daud : Selalu baru setiap pagi, besar setiaNya. Kenjeran yang buruk rupa tak rupawan itu, sekejap bisa dijadikan indah. Semuanya indah pada waktunya, kawan.

Dan demi waktu yang dianggap indah oleh mas barel dan mas dipta untuk lanjut hunting foto di TP5 dan stasiun semut ini, aku harus sms ayahku lagi buat minta over time (lagi). Hmm, barangkali kalian penasaran kok aku boleh sama orang tuaku kelayapan ke mana-mana, nggak pulang semalaman. I tell you : aku dipercaya oleh orang tuaku. Dan syaratnya adalah, jangan sedikitpun menodai kepercayaan itu. Dan, tengkyu lagi buat Tuhan, yang menempatkanku disisi teman-teman yang semuanya baik-baik.

Oke, lanjut ke TP5. Energi dari nescafe semalam sudah hampir habis. Di TP5 yang masih sepi itu, aku nggak beli apa-apa. Minat sih banyak, tapi baju-bajunya ada di penjual yang beda-beda. Jadi nggak dapet murah dong. Yang semangat malah mas-mas ini. Ehehehe. Oh ya, aku lupa. Pesan moral petualangan ini adalah : gunakanlah bahasa jawa yang benar dan baik. Ya nggak mas? Meskipun, yang kita ajak ngomong dari Mangga dua, keputran, kenjeran sampe TP5 kebanyakan orang madura. Whekekekek. Aku sampai berfikir keras lho kalau mau ngomong. Dan kosakataku dari satu pedangan ke pedangang lain, sama. Improve dikit bisa bahaya, keluar bahasa kemplung jadinya.

Stasiun semut, stasiun teraneh yang pernah kulihat. Berhentinya kereta berangkat dan kereta datang nggak sama. Stasiunnya remang setengah mati. Wah, pokoknya kalau ada turis, jangan diajak ke sana deh. Yang berkesan dari stasiun ini, aku lihat bapak-bapak yang pekerjaannya nggak pernah aku bayangkan sebelumnya : nongkrong di bawah kereta api, diantara roda-rodanya.
Bukan sembarang nongkrong. Bapak-bapak ini bertugas untuk mengencangkan baut-baut si ular besi ini. Memberi oli, merawat, dsb. Sangat sederhana, tapi ditangan merekalah kejadian-kejadian seperti final fantasi (opo destination yo? lupa) bisa dihindarkan. Nggak sempat ngobrol sih, cuma lihat dari kejauhan. Hmm, ternyata sekecil apapun peranmu, dimanapun kamu berada, sangat menentukan buat hal-hal besar yang satu mata rantai didalamnya.

Meskipun capek dan ngantuk nggak karuan. Whueh, aku seneng banget bisa jalan-jalan kayak gini. Kapan-kapan lagi deh, kalau bisa. Pada dasarnya aku emang suka petualangan. Yah, selagi bisa nikmati hidup. Work hard, play hard-lah!!!!! terima kasih buat mas barel, yang sudah mau susah-susah bantuin. Juga mas dipta.

0

Tisu

Kenapa kita membisu
Menyimpan semuanya hingga bibir kelu
Kenapa selalu menjadi batu
Pura-pura tak tahu
Bahwa ada rasa dibalik hati kita yang beku

Aku tahu
Kau pun tahu
Tapi sama-sama tak mau tahu
Menganggap rasa itu hanya sebuah tisu
Tipis, dan mudah hancur oleh waktu

0

Jarak

Apakah jarak itu?
Ukuran panjang yang membentang diantara kita
Atau rasa yang tak lagi ada
Mengaburkan tiap kenangan tawa
Memburamkan tiap serpihan canda

Apakah jarak itu?
Jeda satu tempat ke tempat lain
Atau hati yang membeku
Menjadi dingin karena aku tak lagi hadir
Menjadi dingin karena kamu tak lagi disini

Aku ingin tahu, apakah jarak itu?
Ukuran seberapa jauh kita terpisah
Atau seberapa erat ikatan itu kita kencangkan

Karena aku tak peduli bermil-mil jauhnya kau pergi
Aku tetap disini untuk menanti
Bersamamu, tuk mengulangi
Saat-saat kita berbagi pelangi....

0

Pacarku Lima soalnya Umurku lima


baiklah, seneng banget kan kalau bisa kumpul sama keluarga...bisa ketawa-ketiwi..nah, seharian bersama adek-adekku, bisa menghasilkan pembicaraan geblek seperti ini..

Dito : Ndi, sekolahmu yak apa tadi? os-os..paling kamu mainan tok..
Ibu: nggak'e tadi rendi pinter kok ya. ini sekarang udah bisa ngitung mas.
ayo ndi, 18 dikurangi 8
rendi: 18, sepuluhe ndok mulut (sambil memagang mulut), trus sisa 8. diambil 8. 1,2,3,4,5,6,7,8. lho berarti habis. sisa 10 ndok mulut. berarti 10 ya buk??
semuanya: horeee!!!pinter
Puz: ya wes, sekarang baca. ayo namaku dieja sama namae mas dito
Rendi (gaya mengeja) : d.i.di.di..t.o.to.to...dito.....p.u.pu..p...i.t.a.ta.ta..pupita.lho?
Ibu, dito, puz : lhow yak apa seh ndi,,,es.nya mana???
rendi (bergaya sinetron marah-marah) : hihihi. biarno ta! aku kan jek cilik. arek cilik itu yo gini, belum bisa lancar. ngerti arek cilik ga?
Dito : kamu pacaran ae os..gak belajar
Rendi : lha kamu yo pacaran ae, niken itu hayo. bu mas dito lak pacaran ae yo..
(ibuku ketawa-ketiwi muram)
puz: pacarmu sekarang berapa seh ndi?
Rendi: lima. Umurkan kan lima tahun. yek, kamu kalah yek. mas dito pacare satu, mbak upa nggak punya, aku punya lima,yek.
(serumah ketawa, kecuali ayahku, karna emang belum pulang,hehe)
puz: gayamu os!! sapa seh..
Rendi : rahasia. kamu lak ditanyai yo senengane rahasia.
puz: yo wes, nanti gak rahasia wes. sapa osh, nadia atau nayla? puput ta?
ibu: mbak, kok tambah mbok tanggap.
dito : biarno bu,,hakakak, lucu..sapa osh pacarmu?
Rendi: yo semua.
Dito : whoe,whoe,kamu lak pacaran yo opo? smsan gak bisa ngono, blum bisa baca lancar. mosok pacaran?
Rendi: yo, nggak. kalau ndok sekolah biasane kejar-kejaran. trus lek berdoa pulang ato masuk, tanganku digandeng, hihihi.
(puz membatin, mampuz kon, siapa nih yang ngajarin)
seisi rumah ketawa lagi.
ibu: heh, rendi ngomong apa. nggak boleh ndi. kalau berdoa ya berdoa
Rendi: aku nggak lapo-lapo kok. Puput yang megang tanganku.
Puz (sambil cekikikan): hakakaka, lah terus kamu yo opo?
rendi : yo aku pamer sama temanku. heh man (manggil temannya rohman,), trus aku gini..(menggerak-gerakkan mata dan alis..)

whakakakakkak...LUCU CIAK...tapi iki adekku korban sinetron banget..yang namanya rendi ini masih 5 tahun sodara-sodara..wes ngarti gandengan tangan sama pacaran, my GOSH!! kalau dito sih, klas 3 sma wajar aja punya pacar. lha iki jek TK pacare 5, sama kaya umur. lha lek umur 24 gitu, ujubnya ada 24. pemikiran anak bayi tak dapat kumengerti, haakakkaka...aku langsung usul, gimana kalau TVnya dijual aja...

0

Memilih Biru


Cerita haru dibawah langit biru
tentang aku dan kamu
yang takkan pernah bersatu
sibuk sendiri dalam bisu
terperangkap malu

bukan jarak yang jauh
karna kamu slalu dihadapanku hingga aku jemu
dan kita tertawa sepanjang waktu
dalam canda yang semu
dalam gurau yang menyembunyikan sesuatu

tiga tahun,
waktu yang kita tempuh
tak membuat kita belajar jujur
tak membuat kita berani mengaku
ada sesuatu yang tumbuh subur
dihatiku, dihatimu
mekar bunga-bunga
yang wanginya cuma milik kita berdua

cerita haru dibawah langit biru
tentang waktu yang telah berlalu
tentang aku dan kamu
yang saat ini sama-sama tahu
tapi memilih untuk tetap menjadi biru
dalam rindu

0

Traffict Light


kotak kaca yang bening biru
dan gerimis lembut jadi satu

anak kecil penghuni trotoar menatapnya sayu

ibu, adakah bahagia di kotak kaleng kita?
yang berisi receh-receh nyanyianku di bawah lampu
yang kerlipnya merah-kuning-hijau
lalu jadi biru di mataku yang kuyu

basah,
rintik hujan dan airmata
dalam gelut hidup yang begitu lama

kotak kaca yang bening biru.
berisi mainan kayu
di etalase toko kelas satu,
hanya terbeli oleh pahit empedu..
l

0

Bukan Kelas 5 SD, Bang

Bukan Kelas 5 SD bang...
Share
Wednesday, March 25, 2009 at 7:16pm | Edit Note | Delete
Wah, ternyata aku nggak ternyata facebook nggak bisa nggak dibuka selama itu. Meski pengin buka lagi pas paskah, ada aja yang bikin aku buka. Yang nggak bisa ditolak : ambol poto share artis lewat FB..okeh..hidup ini memang butuh teknologi. Lha wong rapat komunikasi aje pake YM, ya nggak zak..bahas tugas ae buka YM, males sms, ya nggak Cit??

Nah, sekarang aku mau cerita...tapi janji dulu ya..nggak boleh ngakak, dan wajib ambil formulir DUKUNG PUSPITA terlebih dahulu..

Sudah?

Oke,,barangkali sudah banyak yang aku ceritain tentang ini. Tapi biar semua orang sehat dan senang, aku tulis aja deh di note..

Waktu pulang dari Jakarta, aku nggak naik pesawat. Naiknya kereta api, tut tut gujes-gujes. Gambir di landa hujan waktu itu. Aku makan di hoka-hoka bento sambil nunggu kereta yang berangkat jam sth 7 (aku nyampe stasiun jam 4an,hhueks nunggu lama)

Pas di hokben aku mikir, ini nunggu kaya gini aja bosen. Apalagi dikereta yang nyampe Sby baru besok pagi itu..ijinlah aku pada mas bowo buat beli majalah sama TTS a.k.a teka-teki silang. Asyik kan? Biar nggak jenuh. Aku paling benci menunggu...

Puspita (puz) : (celingukan lihat-lihat TTS dan majalah)
Abang Kios (AKi) : (melihat dan tersenyum ramah)..Mau beli apa neng??
Puz : hmm, ini bang mau beli TTS. Ada nggak bang?
Aki : Oh ada. Emang buat apa neng, kecil-kecil kok ngisi TTS?
Puz : (baiklah aku memang kecil~_~)..ya kan di kereta lama bang. Daripada bosen.
Aki : Emang mau kemana neng?
Puz : Surabaya bang.
Aki : Oh, liburan ke Jakarta. Besok masuk sekolah ya? Udah kelas berapa? Udah naik kelas 5?
Puz : (Yang asyik lihat TTS dan majalah menoleh murka, heran, geli, dan takjub) ha? Udah naik kelas 5? Beneran bang ngira aku kelas 5? (pengin tak kubur majalah abang ini)
Aki : Lho, belum atau udah naik? Uda SMP?
Puz : (geleng-geleng tak percaya, sedikit bersuara melas) Enggak bang
Aki : Ah masa sudah SMA? Nggak mungkin ah?
Puz : (Mampuz peks..isok ga mungkin lowh!! Belum pernah dikubur majalah sungguhan abang ini). Enggak bang! AKU Nih Sudah Kuliah Bang...Semester Dua Nih Sekarang..masa nggak kelihatan sih..wajahku kan sudah tua bang.
Aki : (Ekspresinya mayak, dia kaget tak percaya.) haha. Lho iya? Masak sih neng..Sudah kuliah? Owh, kok masih segini badannya..
Puz : (andaikan Yao Ming mau berbagi..) ya nggak tahu bang. Masa nggak percaya? Aku punya ktp nih, ato Ktm juga ada kalo mau..
Aki : (tertawa setan) owh, yayayaya...habis badannya kecil, kayak anak kelas 5 SD.
Puz : ya udah bang ini berapa..saya mau beli

Aku beli dua TTS, dua majalah (satu sih, gratis satu), sambil si Aki masih ketawa-ketawa setan minta maaf. Iye, aku maapin abang kios..ya aku berterima kasihlah kalau emang wajahku masih imut..tapi plis po’o jangan kelas 5 SD. KEJAUHAN!!!! PLIZZZ!!!!
Banyak kok anak kuliahan yang tingginya seaku..masak Cuma aku doang yang selalu dihina..plis-plis-plis...aku sekarang mau minum zevith grow ama minum susu boneto. Doakan cepat tinggi...(soundtrack scoot emulsion: on...tubuhku dulu ya, segini, kini ku tak tumbuh lagi..kuingin aku, tumbuh besar...hikz)

2

Bleeding Feet


Kalau kaki sudah tak mau melangkah
Apakah harus diseret hingga berdarah

Kakiku masih tegak menantang langit biru
tapi tidak saat merah senja membuatku ngilu

0

Terima Kasih


Terima kasih
Untuk saat ini

Buat kamu yang menunjukkan kepadaku
Pelangi yang berwarna-warni
Merahnya diwajah kita
Kuning cerianya di senyum kita
Hijau segarnya dihati kita

Buat kamu yang menunjukkan kepadaku
Bahwa langit selalu biru
Meski mendung pernah menjadikannya kelabu
Sama seperti kita selalu tertawa meski tak lucu
Dan menikmati diam yang bukan berarti beku

Terima kasih
Untuk saat ini

Atas rasa yang kau beri
Atas harap yang kau rakit
Atas asa yang kau rajut

Akankah rasa itu mengalir dalam bahasa yang disebut cinta
Lalu perahu yang kau rakit itu membawa kita berdua
Merajut kisah-kisah indah bersama?

Ingin kuucap terima kasih untuk selamanya
Karena saat ini saja tak cukup
Untuk memaklumi hati
Karena saat ini saja tak cukup
Untuk menepati janji
Karena saat ini saja tak cukup
Untuk meniti pelangi......

0

Pada dimensi

Ternyata cinta tak bisa sombong
Mengangkat dagu pada jarak dan waktu
Berlagak tegap pada apa saja
Ia harus mengakui ada dimensi dimana dia ada
Di sudut hati yang harus dihidupi
Jika tak terjangkau mungkin saja kan luruh
Jika tak dihirau mungkin saja akan luluh

0

Serpihan


Aku mengumpulkan serpihan-serpihannya

Seulas senyummu

Pecahan-pecahan candamu

Sekeping kata-kata manismu

Juga, bongkahan kecil perhatianmu

Aku memasukkannya dalam kantong hatiku

Menjadi memori yang pecah-pecah tanpa alur dan jalur


Entah dengan kacamata apa aku melihatnya

Jalan yang kita lalui memang berbeda

Rel yang tidak sama


Tapi, lihatlah di batas cakrawala itu mereka satu

Aku menganggapnya begitu,

Barangkali jalan kita bisa bertemu


Aku hanya gadis biasa yang melakukan kebiasaan para gadis


Dengan langkah ringan dan senyum mengembang

Aku coba menghubungkan-hubungan serpihan yang aku temukan

Merekatnya dengan harap

Merajutnya dengan sabar

Seperti patchwork dari kain perca

Serpihan-serpihan itu menjadi indah

Dan ingin kubentangkan sebagai cakrawala

Yang mehilangkan tiap padangan beda, atas rasa yang tak pernah sama


Tapi aku menunggumu

Karena kisah ini hanya bisa diakhiri olehmu

Saat kau melengkapi bagian kunci dari puzzle ini

Dan semuanya menjadi jelas

Kau cinta aku atau tidak


Ketika semuanya berakhir di tanganku

Artinya aku sudah bisa membaca

Bahwa serpihan yang aku kumpulkan cuma sampah

yang tak sengaja kau buang.


Ternyata aku tak berarti apa-apa.